Monday, 23 January 2017

Rahasia Langit di dalam Al Qur'an

Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota saat ini. Sesuatu yang hilang yaitu adalah keindahan langit, cahaya lampu-lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus setiap qalbu. Sedangkan gedung-gedung yang tinggi menghalangi indahnya saat-saat matahari terbit yang penuh makna.

Mungkin hal itu adalah salah satu sebab kurang pekanya qalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam. Padahal Allah SWT telah berulang kali mengingatkan kita melalui firman-firman-Nya yang menjelaskan tentang penciptaan langit dan siang dan malam itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya.


Seperti dalam surat berikut ini Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran: Ayat 190-191)

Menurut salah satu riwayat, setelah ayat itu turun kepada Rasulullah SAW kemudian beliau menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu subuh bertanya kepada Rasulullah, "Apa yang membuatmu menangis Ya Rasulullah?", kemudian menjelaskan bahwa pada malam itu turunlah ayat yang amat berat maknanya, sedangkan sedikit dari umatnya yang merenungkannya.

Mungkin banyak di antara kita yang sering membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, tetapi hanya sebatas formalitas zikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, bahkan kadang dengan pelafalan yang kurang sempurna.

Zikir sebenarnya tidak hanya di ucapkan sesudah shalat saja, tetapi berlaku sepanjang kehidupan kita. Namun sayang, suasana kota dan kesibukanlah yang terkadang membuat kita lalai untuk selalu berzikir kepada-Nya.

Apabila setiap hari Anda di hadapkan dengan suasana kota seperti kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mempengaruhi suasana hati, mungkin zikir akan terus terlupakan dan berganti dengan keresahan dan kejenuhan.

Beruntunglah bila kita masih bisa menikmati langit malam yang indah ini, matikanlah lampu luar untuk sesaat dan pandangilah langit yang bertabur bintang.

Bila daerah Anda tidak terlalu parah terkena dampak polusi cahaya, maka Anda dapat menyaksikan penampakkan galaksi bima sakti yang memiliki miliyaran bintang membujur di langit. Dan sesekali mungkin akan Anda dapat menjumpai meteor yang seperti bintang jatuh.

Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkanlah ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil pada saat itu akan lebih mendalam merasuk qalbu daripada ucapan yang hanya berpacu pada hitungan biji tasbih atau jari.

Di tengah keluasan langit, maka kita akan menyadari bahwa bumi kita ini hanyalah sebuah planet mungil di antara keluarga matahari. Sedangkan matahari hanyalah sebuah bintang kecil di galaksi bima sakti.

Karena, masih banyak sekali bintang-bintang raksasa yang ukurannya ratusan juta kali lipat ukurang matahari. Ilmu modern sendiri menyebutkan bahwa galaksi sendiri hanya dihuni oleh miliyaran bintang, gas dan debu yang merupakan bahan baku pembentuk bintang-bintang baru.

Sedangkan jumlah galaksi yang ada pada alam semesta ini tidak terhitung jumlahnya. Di dalam Al Qur'an dan Hadits, sering sekali kita menemukan ungkapan tentang langit, khususnya dalam ungkapan tujuh langit. Lalu apakah hakikat langit? apakah langit biru yang ada di atas sana?

Pengetahuan modern saat ini menyebutkan bahwa langit biru terbentuk hanya karena hamburan cahaya matahari yang disebabkan oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar atmosfer bumi, warna biru tidak ada lagi, yang ada hanyalah warna hitam dan titik-titik cahaya bintang, galaksi dan benda-benda langit lainnya.

Allah SWT berfirman:

"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: Ayat 29)

Pada artikel sebelumnya yang berjudul Dimanakah Letak Tujuh Langit Itu? kita sudah mengetahui bahwa pemahaman bilangan tujuh dalam beberapa hal di dalam Al-Quran tidak selalu menyatakan eksak dalam sistem desimal.

Hingga makna tujuh lapis langit yang di gambarkan oleh para mufassirin lama apalagi dalam kisah Isra' Mi'raj mesti di kaji ulang. Konsep tujuh lapis langit selalu mengacu pada konsep geosentrik, yaitu yang menganggap bumi sebagai pusat alam semsesta yang di lingkupi oleh lapisan-lapisan langit.

Misalnya di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga.

Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Contoh pada surat Al-Baqarah ayat 261, disana Allah menjanjikan:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah ayat 261]

Dimanakah Letak Tujuh Langit Itu?

Isra' Mi'raj adalah sebuah peristiwa yang sangat penting sekali bagi umat Islam. Isra' adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Mekah hingga Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW saat dinaikkan ke langit oleh Allah SWT sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi.

Semua peristiwa tersebut terjadi hanya dalam waktu satu malam saja. Peristiwa ini sangat penting sekali bagi umat Islam karena dalam peristiwa ini Rasulullah SAW mendapatkan perintah langsung dari Allah yaitu perintah melaksanakan Shalat 5 waktu bagi seluruh umat Islam sebagai bentuk ibadah kita terhadap Allah SWT.


Kisah Isra' Mi'raj ini juga di abadikan di dalam kitab suci Al-Qur'an,

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Isra': Ayat 1)

Ketika sedang Mi'raj ke Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW melihat wujud asli malaikat Jibril.

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS. An-Najm: Ayat 13-18)

Sidratul Muntaha jika di lihat secara harfiah memiliki arti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui'. Sehingga hal ini melambangkan bahwa tidak ada suatu makhlukpun yang dapat melewatinya kecuali hanya dengan izin dari Allah SWT.

Ketika Mi'raj, nabi Muhammad SAW di angkat Allah hingga mencapai Sidratul Muntaha setelah melewati langit ke-7. Sebagian dari Anda pasti penasaran, dimanakah letak Sidratul Muntaha atau langit ke-7 itu?

Sekilas Tentang Kisah Isra Miraj

Di dalam beberapa Hadits Shahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Isra' dan Mi'raj dengan menggunakan "Buraq". Di dalam Hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa "kendaraan" yang membawa Rasulullah dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi.

Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, terutama di desa-desa.

Dengan buraq itu Rasulullah melakukan Isra' dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan shalat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan malaikat Jibril, nabi Muhammad melanjutkan perjalanan Mi'raj ke Sidratul Muntaha.

Rasulullah dalam perjalanan Mi'raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka.

Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya nabi Isa dan nabi Yahya. Di langit ke tiga ada nabi Yusuf. nabi Idris dijumpai di langit ke empat.

Lalu nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi Harun di langit ke lima, nabi Musa di langit ke enam, dan nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Makmur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan di lanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam‑kalam (pena). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non‑fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (zhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An‑Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari‑semalam. Atas saran nabi Musa, nabi Muhammad SAW meminta keringanan dan diberi pengurangan sepuluh‑sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam.

Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu‑Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba‑Ku."

Dimanakah Tujuh Langit Itu?

Konsep tujuh lapis langit sering disalah artikan. Tidak jarang orang membayangkan langit berlapis-lapis dan berjumlah tujuh. Kisah Isra' Mi'raj dan sebutan "sab'ah samawat" (tujuh langit) di dalam Al-Qur'an sering dijadikan alasan untuk mendukung pendapat adanya tujuh lapis langit itu.

Ada tiga hal yang perlu dikaji dalam masalah ini. Dari segi sejarah, segi makna "tujuh langit", dan hakikat langit dalam kisah Isra' Mi'raj.

Sejarah Tujuh Langit

Dari segi sejarah, orang-orang dahulu (jauh sebelum Al-Qur'an diturunkan) memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang jaraknya berbeda-beda.

Kesimpulan ini berdasarkan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda-benda langit itu berada pada lapisan langit yang berbeda-beda.

Di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga.

Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan.

Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu.

Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, ..., sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba'ah, khamsah, sittah, dan sab'ah.

Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum'at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur'an yang menunjukkan adanya kewajiban shalat Jum'at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian "Ahad" daripada "Minggu".

Makna Tujuh Langit

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran.

Dan lapisan‑lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda‑benda langit sama sekali tidak ada. Sedangkan warna biru bukanlah warna langit sesungguhnya. Warna biru dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh atmosfer bumi.

Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Contoh pada surat Al-Baqarah Ayat 261, disana Allah menjanjikan:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: Ayat 261)

Lalu pada surat Luqman Ayat 27:

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Luqman: Ayat 27)

Jadi 'tujuh langit' semestinya dipahami pula sebagai tatanan benda‑benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan‑lapisan langit.

Tujuh langit pada Mi'raj

Kisah Isra’ Mi’raj sejak lama telah menimbulkan perdebatan soal tanggal pastinya dan apakah Nabi melakukannya dengan jasad dan ruhnya atau ruhnya saja. Demikian juga dengan hakikat langit.

Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah langit ghaib.

Dalam kisah Mi’raj itu peristiwa lahiriah bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitul Makmur, tempat ibadah para malaikat.

Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah Mi’raj itu memang bukan langit lahiriah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Sumber :

Sunday, 22 January 2017

Ka'bah akan Dihancurkan di Akhir Zaman

Kita sudah banyak tahu tentang tanda-tanda akan datangnya hari kiamat, selain kemunculan Dajjal dan Nabi Isa AS, pada suatu saat nanti juga akan datang seseorang yang akan menghancurkan Ka'bah.

Siapakah orang tersebut? Seperti yang terdapat dalam banyak hadits, orang tersebut dikatakan bernama Dzussuwaiqatain. Dzussuwaiqatain adalah nama sebuah gelar yang artinya Si Pemilik Dua Betis yang Kecil.


Dzussuwaiqatain akan muncul setelah Nabi Isa dan pasukannya membinasakan Ya'juj dan Ma'juj. Mengetahui Ka'bah akan dihancurkan, Nabi Isa mengirim pasukannya untuk memerangi balatentara Dzussuwaiqatain. Mereka berkekuatan antara 700 sampai 800 orang. Namun ketika mereka berjalan, Allah mengirimkan angin sejuk dari arah negeri Yaman. Angin itu mencabut nyawa setiap orang yang beriman. Dan sisanya tinggal manusia-manusia jahat.

Jika Ka'bah dihancurkan, maka pada saat itu hari Kiamat sudah sangat dekat. Banyak hadits yang berkaitan tentang kedatangan dari Dzussuwaiqatain tersebut diantaranya,

Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Abdullah ibn Umar bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Dzussuwaiqatain dari Habasyah akan menghancurkan Ka’bah, pengikutnya akan merampasnya, dan menganggalkan kain kiswahnya. Seakan-akan saya melihatnya botak dan ditinggalkan."

Kemudian dalam Shahih Bukhari dan Musnad Ahmad diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Seakan-akan saya melihat Ka'bah sedang diturunkan batu demi batu."

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dzussuwaiqatain dari Habasyah akan menghancurkan Ka'bah."

Imam Ahmad meriwayatkan pula bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepada perawi hadist ini, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Seakan-akan aku melihatnya, orangnya hitam, dengan congkaknya dia merobohkannya (Ka'bah) batu demi batu".

Wallahu a'lam bish-shawab. Semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita semua.

Saturday, 7 January 2017

Semua Berawal dari Kebodohan !


Manusia memang makhluk yang unik. Sesekali Al-Qur’an memuji kemuliaan mereka setinggi-tingginya, dan di ayat yang lain juga mengomentari keburukan dan kehinaan manusia. Salah satunya dalam ayat berikut ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfal: Ayat 22)

Dalam ayat ini, manusia yang menutup mata dan telinga dari kebenaran disebut sebagai seburuk-buruk makhluk yang melata di muka bumi. Ya, ketika manusia menyia-nyiakan bantuan dari Allah berupa akal dan pengetahuan, maka ia akan terjatuh ke suatu kondisi yang menjadikannya lebih buruk dan lebih sesat dari binatang sekalipun.

Seorang yang tidak menggunakan petunjuk dan ilmu pengetahuan yang telah disediakan oleh Allah, maka ia akan memanfaatkan seluruh kemampuan yang ia miliki untuk keburukan. Tak heran jika kita sering terkejut melihat perilaku manusia yang begitu kejam dan sadis, bahkan binatang buas pun enggan melakukan hal itu.

Semua berawal dari kebodohan. Seperti yang terjadi di zaman kita ini, ketika banyak manusia yang jauh dari Allah bahkan amat jauh dari rasa kemanusiaan itu sendiri.

Mari kita lawan kebodohan, maka akan tercipta generasi yang cinta damai dan lebih memiliki rasa kemanusiaan.

Sunday, 25 December 2016

Manusia, Sebab Penciptaan Alam Semesta !



Manusia sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an adalah rahasia penciptaan alam semesta. Tidak ada yang mampu menjelaskan hakikat manusia seperti Al-Qur’an.

Kali ini kita akan melihat 7 keutamaan manusia yang dijelaskan oleh Al-Qur’an sebagai berikut :

1. Diciptakan langsung oleh “Tangan-Nya”

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

(Allah) berfirman: “Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (QS. Sad: Ayat 75)

2. Tercipta dari “ruh” Allah.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: Ayat 29)

3. Allah titipkan amanat kepadanya.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” (QS. Al-Ahzab: Ayat 72)

4. Diajarkan seluruh nama kepadanya.

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya.” (QS. Al-Baqarah: Ayat 31)

5. Malaikat diperintahkan untuk sujud kepadanya.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَم

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” (QS. Al-Baqarah: Ayat 34)

6. Dijadikan khilafah dimuka bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَة

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS. Al-Baqarah: Ayat 30)

7. Segala sesuatu diciptakan untuknya.

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.” (QS. Al-Jatsiyah: Ayat 13)

Inilah tujuh keutamaan manusia sebagai intisari penciptaan alam semesta. Bentuknya memang kecil ditengah alam yang luas ini namun didalam dirinya terdapat potensi yang begitu besar.

“Apakah engkau mengira bahwa dirimu adalah tubuh yang kecil sementara pada dirimu terdapat alam yang lebih besar.”

Sayyidina Ali bin Abi tholib

Nb : Untuk memahami makna “diciptakan langsung oleh Tangan-Nya” dan “tercipta dari ruh Allah” silahkan buka buku-buku tafsir Al-Qur’an.

Sumber:

Saturday, 24 December 2016

Ternyata Inilah Makna Ayat “Jagalah Keluargamu dari Api Neraka!”


Ternyata Inilah Makna Ayat “Jagalah Keluargamu dari Api Neraka!”

Seorang bernama Abu Bashir pernah bertanya kepada Imam Ja’far As-Shodiq (Guru Imam madzhab Maliki dan Hanafi) tentang firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: Ayat 6)

Dia bertanya, “Aku mampu memelihara jiwaku, tapi bagaimana aku akan menjaga keluargaku (dari api neraka)?”

Imam Ja’far menjawab, “Perintahkan mereka sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan larang lah mereka sesuai dengan apa yang dilarang oleh-Nya. Jika mereka menaatimu maka engkau telah menjaga mereka, namun jika mereka melanggar apa yang kau katakan maka engkau telah melaksanakan kewajibanmu.”

Semoga bermanfaat…

Sumber:

Tuesday, 20 December 2016

Abu Qudamah dan Mujahid Kecil



Abu Qudamah, salah seorang panglima kaum muslimin dalam peperangan melawan Romawi berkata;

“Saat peperangan itu saya adalah panglimanya, maka saya menyeru untuk berjihad di jalan Allah. Lantas datanglah seorang perempuan membawa kertas dan bungkusan, lalu saya membuka kertas itu untuk membacanya dan melihat isinya. Ternyata di dalamnya terdapat tulisan:
‘Bismillahirrahmanirrahim.
Dari seorang muslimah umat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada panglima tentara muslim.
Keselamatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga terlimpah kepadamu. Amma ba’du.
Sungguh, engkau telah mengajak kami berjihad di jalan Allah sementara tidak ada kekuatan bagiku untuk berjihad dan tidak ada kemampuan untuk berperang. Di dalam bungkusan ini terdapat jalinan rambutku. Ambillah sebagai pengikat kudamu. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menuliskan untukku sebagian dari pahala orang-orang yang berjihad.
“Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas taufik yang diberikan kepada perempuan tersebut. Saya yakin bahwa umat Islam menyadari kewajiban dan berkumpul untuk melawan musuh. Ketika kami menghadapi musuh, saya melihat anak kecil yang bagus bicaranya. Saya mengira bahwa dia tidak ikut perang karena usianya yang masih belia, lalu saya mencegahnya karena kasihan kepadanya. Kontan dia berkata, ‘Bagaimana kamu ini malah menyuruhku pulang padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
Berangkatlah kamu dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat.” (QS. At-Taubat: 41)
“Akhirnya saya membiarkannya, kemudian dia menghadap kepadaku dan berkata, ‘Pinjamilah aku tiga anak panah,’ dengan perasaan heran bercampur kasihan saya berkata kepadanya, ‘Saya akan meminjami kamu apa yang engkau inginkan dengan syarat; hendaknya engkau memberi syafaat kepadaku jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikanmu mati syahid –saya menduga seperti itu dengan diliputi rasa cinta.’ Dia menjawab, ‘Baiklah, Insya Allah.’ Selanjutnya saya memberikan kepadanya tiga anak panah, kemudian dia menghadapi musuh dengan penuh kekuatan dan semangat yang bergelora.”
“Dia senantiasa mengenai musuh dan musuh mengenai dirinya sehingga dia tersungkur jatuh di medan perang. Mataku tidak pernah terlepas darinya sepanjang peperangan lantara kagum sekaligus kasihan kepadanya, ‘Apakah engkau ingin makan atau minum?’”
“Dia menjawab, ‘Tidak. Sungguh, saya memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas apa yang telah terjadi pada diriku. Akan tetapi, saya punya keperluan denganmu.’ Saya berkata kepadanya, ‘Tidak ada yang lebih saya sukai dari pada memenuhi keperluanmu itu, wahai anakku! Mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan’.”
“Lantas dia berkata seraya mengeluarkan nafasnya yang suci, ‘Sampaikan salamku untuk ibuku kemudian serahkanlah barang-barangku kepadanya’.”
“Saya bertanya, ‘Siapakah ibumu, wahai anak muda?’ Dia menjawab, ‘Ibuku ialah orang yang memberikan rambutnya kepadamu untuk mengikat kudamu ketika dirinya tidak mampu berperang di jalan Allah’.”
“Saya berkata, ‘Semoga Allah memberkahi kalian sekeluarga’.”
“Kemudian dia pun meninggal dunia. Saya pun melaksanakan apa yang telah menjadi kewajibanku. Ketika saya menguburkannya, tiba-tiba bumi memuntahkannya kembali. Lalu saya menguburnya lagi, ternyata bumi masih juga memuntahkannya. Lantas saya menggali kuburnya lebih dalam, kemudian saya menguburkannya, dan ternyata bumi memuntahkannya untuk kali ketiga.”
“Saya berkata sendiri, ‘Barangkali dia berperang tanpa disertai ridha ibunya.’ Lalu saya melakukan shalat dua rekaat dan berdoa kepada Allah agar mengungkap kepadaku mengenai apa yang terjadi pada anak tersebut.”
“Tiba-tiba saya mendengar seseorang berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Qudamah! Biarkanlah wali Allah itu.’ Akhirnya saya pun membiarkannya beserta segala urusannya. Saya yakin bahwa dia mempunyai kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada seekor burung datang, lalu memakannya. Saya sangat takjub dengan kejadian tersebut. Kemudian saya menuju ke tempat ibunya untuk melaksanakan wasiatnya.”
“Ketika ibunya melihatku, dia berkata, ‘Apa yang mendorongmu datang ke sini wahai Abu Qudamah, apakah engkau datang untuk berbela sungkawa ataukah untuk mengucapkan selamat?’”
“Aku bertanya kepadanya, ‘Apa maksudnya?’”
“Ibunya menjawab, ‘Jika anakku meninggal dunia, berarti engkau datang kepadaku untuk berbela sungkawa. Jika anakku gugur di jalan Allah dan meraih syahid, berarti engkau datang untuk mengucapkan selamat.”
“Lantas saya menceritakan kisah anak kepadanya dan saya ceritakan pula tentang burung dan apa yang dilakukan burung tersebut terhadap anaknya.”
“Ibunya berujar, ‘Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabulkan doanya.”
“Saya bertanya kepadanya, ‘Apa doanya?’”
“Ibunya menjawab, ‘Sesungguhnya dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam shalat-shalatnya dan kesendiriannya dan membaca doa berikut di pagi dan sore hari, ‘Ya Allah! Kumpulkanlah aku di dalam tembolok burung’.”
“Kemudian saya meninggalkan ibunya dan saya tahu mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan pertolongan pada kami dan mengalahkan musuh-musuh.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Thursday, 15 December 2016

Jauhkan Dirimu dari Harapan yang Sia-Sia !



Ketika kita bergantung kepada makhluk, sehebat apapun ia, sebesar apapun kekuatannya hanya akan mengantarkan pada kekecewaan dan kebinasaan.

Ingatkah kita dengan putra Nabi Nuh AS? Ketika Nabi Nuh mengajaknya untuk naik perahu, ia menolak dan ingin menyelematkan diri dengan mendaki gunung.

Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

Namun apa yang terjadi? Setinggi apapun gunung itu tidak akan menyelamatkanya.

Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. (QS. Huud: Ayat 43)

Maka jangan pernah berharap dan bergantung kepada makhluk, karena sehebat apapun ia tidak memiliki kekuatan dihadapan Allah SWT.

Di tempat lain Nabi Musa dengan segala kelemahan seorang bayi bisa selamat dari maut sementara Fir’aun dengan segala kekuatannya menjadi binasa tak bersisa. Karena semua itu bergantung pada kekuasaan dan kehendak-Nya.

Jangan Putus Asa, Semuanya Mudah bagi Allah !



Ada dua kejadian dalam Al-Qur’an yang seakan tidak masuk akal namun dapat terwujud ketika Allah telah berkehendak. Dua kejadian ini menyimpan pelajaran yang begitu berharga;

1. Ketika Allah menyampaikan kabar kepada Nabi Zakaria AS bahwa beliau akan memiliki anak. Saat itu beliau terheran karena umur beliau sudah tua dan istrinya mandul. Namun Allah berfirman;

Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”. (QS. Maryam: Ayat 9)

2. Ketika Siti Maryam AS hendak dikaruniai seorang anak tanpa ayah, Allah berfirman;

Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. (QS. Maryam: Ayat 21)

Ayat ini hendak menepis segala pemikiran yang menganggap Allah tidak memiliki kuasa untuk melakukan sesuatu yang seakan “tak mungkin terjadi”.

Ayat ini ingin menggugah hati mereka yang lemah dan mudah putus asa dalam menghadapi ujian hidup. Setiap kita ditimpa kesulitan ingatlah bahwa “segala sesuatu itu mudah bagi Allah”.

Serumit apapun masalahnya, sebesar apapun kesulitannya di mata kita, ketahuilah bahwa itu semua mudah dan ringan di mata Allah SWT.

Tanamkan dalam hati kita ayat singkat ini dan jangan pernah putus asa,

قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ

Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku….”

Semoga bermanfaat….

Inilah Kunci Pertama Jalan Keluarmu !



Setiap pintu memiliki kunci, begitu juga setiap masalah pasti memiliki jalan keluar.

Ketahuilah bahwa kunci pertama untuk membuka pintu masalah kita adalah keyakinan pada kasih sayang dan Kuasa-Nya.

Keyakinan itulah yang membawa kita pada jalan keluar. Ketika keyakinan itu semakin dalam maka terangnya jalan keluar semakin terlihat. Tidakkah Allah berfirman,

Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan.” (QS. Al-An’am: Ayat 64)

Karena itu ingatlah Allah selalu karena di sanalah letak segala keberhasilan kita.

“Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: Ayat 10)

Ingatlah Hari Ketika Semua Rahasia Terbongkar !



Setiap manusia memiliki jalan pikiran masing-masing. Terkadang orang berpikiran buruk kepada kita dengan melontarkan tuduhan yang bermacam-macam. Kadang kala kita dianggap sebagai sosok mulia seperti malaikat yang tak memiliki dosa.

Hidup ini memang membingungkan. Tuduhan-tuduhan buruk itu mungkin merugikan kita dan pujian-pujian mereka membuat kita besar kepala. Padahal sebenarnya itu semua tidak penting.

Kita sering sibuk dengan penilaian manusia padahal anggapan mereka tidak akan berarti apa-apa.

Topeng-topeng kemewahan, jubah-jubah ketakwaan dan tampilan “orang baik” dihadapan manusia pada akhirnya akan habis sia-sia. Karena kelak di hari kiamat segala sesuatu akan terbongkar dan semua topeng akan tersingkap.

Maka jangan terpana oleh pandangan manusia. Fokuslah kepada hakikat sebenarnya dari diri kita. Bagaimana kita sebenarnya? Benar-benar bersih atau hanya pura-pura bersih? Benar-benar bertakwa atau pura-pura bertakwa?

Ingatlah bahwa tidak ada yang tersembunyi dihadapan-Nya. Wujud asli kita akan tampil dihadapan semua manusia kelak di hari kiamat.

"Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Mahabenar, dan Maha Menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)." (QS. An-Nur: Ayat 25)

Maka lakukan semua hanya untuk Allah. Niatkan segala sesuatu demi menggapai keridhaan-Nya. Karena pandangan manusia hanya akan berakhir sia-sia. Sementara seluruh amal kita akan diperlihatkan dihadapan setiap mata.

“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Tariq: Ayat 9)

Semoga bermanfaat…

Logika Terbalik Para Pengikut Fir’aun



"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,." (QS. Ali 'Imran: Ayat 133)

Banyak sudut pandang orang dan media yang memunculkan tokoh atau kisah sukses perjalanan kehidupan dunia, bahkan dengan usia yang masih muda, bahkan kita berdecak kagum dengan semua karunia kesuksesan tersebut. Sungguh baik sekali bila kesuksesan tersebut diiringi dengan kemanfaatan yang banyak bagi sesama.

Yang perlu kita perhatikan dengan prestasi dunia tersebut adalah sudahkah prestasi akhiratnya sama atau lebih dengan prestasi dunianya. Sudahkan 5 rukun islam: Syahadat, shalat, zakat, puasa, haji bagi yang mampu sudah dilaksanakan.

Mudah-mudahan Allah SWT memampukan dan mengizinkan kita semua untuk bisa memperoleh kesuksesan akhirat dengan beribadah kepadanya,.... sehingga doa kita bisa terkabul.

Perseteruan antara Haq dan Bathil telah terjadi sejak manusia pertama diciptakan. Setiap zaman memiliki aktor-aktor yang mewakili Nabi Adam AS dan Iblis. Seperti Nabi Musa AS dan Fir’aun contohnya.

Uniknya, mereka yang berada di pihak bathil memiliki logika yang sama. Walau terpaut waktu yang begitu jauh tapi logika mereka tetap se-irama. Kita menyebutnya logika Fir’aun.

Bagaimana logika Fir’aun itu?

Logika Fir’aun adalah logika memutar balik fakta. Yang benar dibilang salah, yang sesat disebut benar.

Seperti dikutip dalam Al-Qur’an,

“dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. (QS.Ghafir: Ayat 29)

Dan dia menuduh Musa sebagai pembawa kesesatan

“sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.”(QS.Ghafir: Ayat 26)

Mari kita lebih jeli dalam berlogika. Semoga kita tidak termakan oleh logika para pengikut fir’aun. Ya Allah berikanlah kepada kami kebaikan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Aamiiin ya rabbal alaamiin.

Tuesday, 13 December 2016

9 Langkah Mendekat Kepada ALLAH SWT



Menurut Al Ghazali, agama adalah jalan atau perjalanan menuju Allah. Dalam terminologi sufistik perjalan ini dinamai al-Suluk,  sedangkan penempuh perjalanan dinamai al-Salik, sang penempuh perjalanan, dan yang dituju (al-Mathlub) adalah Allah SWT (Mizan al-amal, 1979).

Dalam bahasa yang lebih umum perjalanan ini dinamai taqarrub, yaitu proses mendekatkan diri kepada Allah. Taqarrub ini valid, absah, karena Allah adalah dekat, qarib (QS. Al-Baqarah: Ayat 186), bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia (QS. Qaf: Ayat 16) 

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut: Ayat 69)

"Siapa mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil." (HR Muslim)

Mendekati Allah SWT dalam bahasa gaulnya PDKT (pendekatan) sama Allah SWT adalah sebuah ikhtiar insani untuk meraih kecintaan Allah SWT, meraih kecintaan Allah SWT bukan berarti semua keinginan kita dipenuhi oleh Allah SWT. Dicintai Allah SWT berarti Allah SWT yang akan membimbing kita sehingga apabila berbuat salah Allah lah yang menegur langsung, diberi petunjuk untuk bisa mengenal Allah dan taufik serta hidayah untuk menjalankan perintah dan larangannya. Inilah karunia nikmat terbesar dalam hidup ini, Karunia ditunjuki jalan yang lurus yang hanya Allah berikan kepada Nabi nya, Shiddiqin dan Orang-orang Shalihin.

1. Bertobat kepada Allah SWT

"Nabi bersabda, setiap manusia adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah orang yang selalu bertaubat." (HR. Tirmidzi)

Para Nabipun belajar dari kesalahan, Nabi Ibrahim menemukan agama tauhid melalui suatu upaya runtutan yang keliru (QS. Al-An'am: Ayat 75-82), Nabi Musa melakukan pembunuhan yang tak sengaja kemudian menyesali dan mengambil pelajaran darinya (QS Al-Qasas: Ayat 15-19 ), Nabi Daud diajari suatu pelajaran penting yang menyadarkannya akan kesalahannya di masa lampau (QS. Sad: Ayat 21-26).

Tidak seperti Malaikat yang bisa selalu taat kepada Allah, Manusia diberi potensi kebaikan dan keburukan, maka beruntunglah orang yang selalu mensucikannya dan merugilah orang yang mengotorinya.

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)Nya (7) maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (8) sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa) itu dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (10). (QS. Asy-Syams : Ayat 7-10)


Salah satu jalan untuk meminta ampunan penghapusan dosa adalah dengan beristighfar (Astaghfirullah) (QS. Nuh: Ayat 10-12). Dengan beristighfar kita memohon ampunan Allah. Bila Allah mengampuni, Dia lebih dari sekedar menghapus dosa kita. Dia menerima taubat kita dan datang menolong kita (QS. Ali 'Imran: Ayat 31).  Dia membantu kita memperbaiki kerusakan yang kita timpakan atas diri kita sendiri (QS. Al-Ahzab: Ayat 71), dan membimbing kita kepada perbaikan (QS. Al-Hadid: Ayat 78). Bahkan, taubat dapat menghantar hamba menjadi kekasihnya: Sungguh Allah mencintai orang yang bertaubat dan orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah: Ayat 222).

2.  Memperhatikan Ayat-Ayat Allah di Alam Semesta

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain”.(HR. Bukhari no: 4739).

Hadits diatas mengingatkan kita bahwa orang yang paling baik dalam pandangan Allah adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya, maka untuk menjadi manusia terbaik di mata Allah adalah bukan hanya yang belajar Al Qur'an, tetapi juga mengajarkannya.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."(QS. Al-Baqarah: Ayat 164)
***
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran: Ayat 190-191)
***
"Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong." (QS. Al-Kahf: Ayat 51)
***
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar-Rum: Ayat 22)
***
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ghafir: Ayat 57)
***
Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan". (QS. Asy-Syu'ara': Ayat 29)

3. Bersihkan Hati Selalu

"Sesungguhnya Allah TIDAK MELIHAT RUPA dan HARTA kalian, tetapi Ia MELIHATI HATI dan AMAL kalian." (HR. Muslim)


Dan demi jiwa serta penyempurnannya, maka kami ilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan taqwa, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS. Asy-Syams: Ayat 7 - 10)

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: Ayat 28)

Ibarat manusia memilih jodoh (pria/ikhwan) memilih (wanita/akhwat) yang akan dijadikan istrinya dengan  maka kriterianya ada 4 : Kecantikan, Kekayaan, Agama , dan Keturunan yang baik. Dari 4 kriteria itu adalah kriteria manusia dalam melihat calon istrinya .

Allah SWT dalam melihat hambanya hanya melihat hatinya, dalam hati segala perbuatan, niat berasal dari hatilah yang menentukan baik buruknya seseorang.
Seperti dalam hadits

"Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila baik, maka baiklah seluruh amalnya dan bila segumpal daging itu buruk maka buruklah segala perbuatannya.

Maka perbuatan  manusia  adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hatinya.

Teknik-Teknik Praktis Penyucian Jiwa :

1. Ilmu yang bermanfaat
2. Amal Saleh
    A. Shalat
    B. Zakat dan Sedekah
    C. Puasa
    D. Haji
    E. Jihad
    F. Ibadah-Ibadah Sunnah
3. Muhasabah dan Taubat
    A. Muhasabah
    B. Taubat
    C. Bersahabat dengan orang-orang saleh dan merenungi keadaan mereka

    D. Menikah

***

4. Mencintai Allah Lebih dari yang Lain

Dalam bahasa sufi Allah itu Maha Pencemburu, dosa yang tidak diampuni adalah dosa syirik (menduakan Allah) “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

5. Jadikan Hanya Allah Tujuan dan Sandaran (Tawakkal)  dalam Hati

Dalam kehidupan ini banyak tujuan hidup yang bisa terlintas dalam hati, misalnya dalam bekerja di kantor atau berdagang, bisa jadi tujuannya hanya untuk memenuhi tujuan hidup sehari-hari tanpa ada tujuan ibadah kepada Allah SWT, untuk bisa mendekati Allah atau menjadi kekasih Allah maka aktivitas sehari-hari harus ditujukan hanya untuk beribadah kepada Allah.

"Dan Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: Ayat 56)

Maka sebaik-baik niat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

”Sesungguhnya Allah tak menciptakan dua hati dalam rongga dada manusia." (QS. Al-Ahzab: Ayat 4)

Artinya, jika kita isi hati kita dengan segala sesuatu yang tak sejalan dengan penghambaan kita kepada-Nya, maka kesadaran akan Allah tak memiliki tempat di dalamnya.

Jika Allah telah menjadi tujuan hidup dan sandaran kehidupan hanya kepada Allah SWT, maka saat itulah Allah SWT akan terasa begitu dekat dengan hamba-Nya, pada saat tidak ada tujuan kecuali Allah tujuannya dan tidak ada sandaran, kecuali bersandar kepada Allah.


Menurut Ibnu Qoyyim Al Jauzi: “Tawakal merupakan amalan dan ubuddiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarahkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/Arruh-fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

6. Bersungguh-sungguh dalam Menuju Allah

"Dan Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-'Ankabut:  Ayat 69)

7. Mencari Ilmu Tentang Allah (Ma’rifatullah)

Jika ada orang yang bertanya siapakah Allah? Maka tidak ada salahnya di beri jawaban yang sederhana: “Katakanlah, DIA-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. (QS. Al-Ikhlas: Ayat 1-4)

Jika masih bertanya untuk kedua kalinya : Siapakah Allah itu ? maka tidak ada salah diberi jawaban yang sesuai dengan pertanyaan itu: “Allah, tidak ada Illah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. Al-Baqarah: Ayat 255)

Jika masih juga bertanya tentang Allah, Maka benar jika diberi jawaban : “Dialah Allah  yang tiada Illah selain Dia. Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Raja yang Maha Suci. Yang Maha Sejahtera. Yang Mengaruniakan Keamanan. Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa. Yang Maha Kuasa. Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang menciptakan Yang Mengadakan, Yang membentuk rupa. Yang mempunyai nama-nama yang indah. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dialah Yang Maha Perkasa lagi maha Bijaksana (QS. Al-Hasyr: Ayat 22-24)

Mempelajari Ilmu tentang Allah adalah salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan ma’rifatullah (mengenal) Allah kita akan tahu sifat-sifat Allah melalui Asmaul Husna (Nama-nama Allah) yang berjumlah 99

8. Melakukan yang Allah Sukai

Al Qur'an adalah kitab yang tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang beriman. (QS. Al-Baqarah: Ayat 2)

Dalam Al Qur'an banyak ayat yang menyebutkan Allah mencintai perbuatan-perbuatan tertentu seperti dibawah ini:

Ayat-ayat Al Qur'an yang diawali dengan kata Allah mencintai:

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: Ayat 31)
***
"(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali 'Imran: Ayat 76)
***

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali 'Imran: Ayat 134)
***

"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: Ayat 146)
***

"Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: Ayat 148)
***

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu  Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali 'Imran: Ayat 159)
***

"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujurat: Ayat 9)
***

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: Ayat 8)
***

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. As-Saff: Ayat 4)

Diawali dengan kata Allah menyukai :

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: Ayat 195)
***

"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya , dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Maidah: Ayat 13)
***

"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil." (QS. Al-Maidah: Ayat 42
***

"Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Al-Maidah: Ayat 93)
***

"kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa." (QS. At-Taubah: Ayat 4)
***

"Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil Haram? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah: Ayat 7)
***

"Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih." (QS. At-Taubah: Ayat 108)

9. Ingatlah Allah Selalu

"Ingatlah Allah disaat waktu lapang, niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit."
(HR. Muslim dan Tirmidzi)

Allah SWT berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar’rad: Ayat 28). Bagi orang yang sedang merasakan kesusahan atau sedang dirundung suatu masalah besar, dzikir dapat membantu hatinya agar merasa tenang, serta berikhtiar dan mengembalikannya kepada Allah SWT.

Sumber: