Friday, 25 November 2016

Dalil Tentang Suara Tiupan Sangkala Dari Langit dalam Al‐ Qur'an dan Hadits Nabi



Beberapa waktu lalu ada isu yang mengaku telah mendengar ada misteri suara sangkakala dari langit dan sempat membuat heboh di media sosial. Padahal sebenarnya itu bukanlah suara terompet sangkakala sebagai tanda berakhirnya kehidupan dunia (kiamat) yang digambarkan dan disebutkan dalam Al-Qur'an.


Menanggapi berita terkait informasi tentang suara tiupan sangkakala dari langit perlu disampaikan dalil dalam Al-­Qur'an maupun Hadits dan tanggapan beberapa ulama mengenai terompet sangkakala yang sebenarnya akan terjadi nanti pada hari menjelang kiamat.

Dalil dalam keterangan agama menjelaskan sangkakala dengan sebutan kata As ­Shur Pengertian suara tiupan terompet sangkakala berdasarkan kata As­ Shur dalam bahasa Arab artinya tanduk. Adapun etimologi istilah syariat, As ­Shur merupakan sangkakala yang amat besar yang nanti akan ditiup oleh petugas malaikat untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Imam Ibnu Utsaimin, hlm. 114).

Dalil bahwa Sangkakala hanya ditiupkan pada hari kiamat nanti penjelasan ini membantahkan bahwa yang suara yang terdengar dari langit itu bukan suara Sangkakala, melainkan itu hanya fenomena biasa yang telah dari dulu terdengar dari jagat raya.

Adapun keterangan dalil dari kitab suci Al­-Quran yang menunjukkan bahwa sangkakala itu hanya akan ditiup pada awal terjadinya kiamat nanti. Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :

"Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba‐tiba mereka berdiri menunggu (hisab)". (QS. Az‐Zumar: Ayat 68).

Selain itu dijelaskan pula dalam ayat Al-­Qur'an :

“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba‐tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Ya Sin: Ayat 51).

Sedangkan pada keterangan hadits yang begitu panjang Rasulullah SAW bersabda :

“Kemudian ditiuplah sangkakala, tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali akan mengarahkan pendengarannya dan menjulurkan lehernya (memerhatikannya). Lalu, tidak tersisa seorangpun kecuali dia mati. Kemudian Allah menurunkan hujan seperti gerimis. Kemudian tumbuhlah jasad‐jasad manusia setelah disirami. Lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba‐tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (hisab).” (HR. Ahmad 6712 dan Muslim 7568).

Kita bisa perhatikan beberapa dalil terompet sangkakala di atas ditiup sebanyak dua kali.
Pertama, semua makhluk di langit dan di bumi akan mati kecuali yang dikehendaki Allah.
Kedua, terjadi kebangkitan dari alam kubur setelah mereka dihancurkan. Ini terjadi setelah tiupan kedua.

Perlu diyakini dan diimani bahwa petugas peniup terompet sangkakala yang katanya malaikat Israfil sedang menunggu perintah Allah hingga saatnya nanti. Dia selalu siaga kapan saja diperintahkan untuk meniup terompet sangkakala tersebut sebagai tanda terjadinya hari kiamat yang dijanjikan. Penjelasan dalil yang memberi keterangan jelas bahwa sangkakala ditiupkan suaranya terdengar seperti terompet ada pada keterangan dalil berikut ini :

Hadist Nabi dari sahabat Abdullah bin Amr RA, yang mengisahkan tanya jawab seorang Arab badui :

Ada orang arab badui bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu As‐Shur (sangkakala)?” Beliau menjawab, “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad 6507, Abu Daud 4744, dan dishahihkan Syuaib al‐Arnauth).

Hadits Abu Said al­-Khudri RA, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Bagaimana aku akan senang hidup di dunia, sementara pemegang sangkakala telah memasukkannya ke mulutnya. Dia memasang pendengaran menunggu diizinkan (meniupnya). Kapanpun dia diperintah meniupnya, dia akan meniupnya.” (HR. Turmudzi 2628, dan dishahihkan al‐Albani).

Mengenai pertanyaan tentang berapa kali sangkakala ditiup? maka para Ulama ada selisih perbedaan pendapat tentang berapa kali sangkakala ditiupkan?
Pertama, sangkakala ditiupkan 3 kali.
Jika kita rinci, 3 kali itu adalah: 

Dalil sangkakala berupa tiupan Al Faza’ yang berarti tiupan yang membuat seisi alam kaget dan terkejut. Allah berfirman;
“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di 
langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap‐Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An‐Naml: Ayat 87).

Dalil sangkakala berupa tiupan Ash ­Sha’q yang berarti tiupan mematikan dan membinasakan. Allah berfirman;

"Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi 
kecuali siapa yang dikehendaki Allah". (QS. Az‐Zumar: Ayat 68).

Dalil sangkakala berupa tiupan Al­ Ba’ats yang berarti tiupan kebangkitan. Allah berfirman;

"Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba‐tiba mereka berdiri menunggu (hisab)". (QS. Az‐Zumar: Ayat 68).

Yang beranggapan bahwa sangkakala ditiupkan 3 kali maka pendapat ini bersumber dari sahabat Abu Hurairah RA yang terdapat pada redaksi hadits berikut ini :

“Malaikat itu meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama mengejutkan. Tiupan kedua mematikan, dan tiupan ketiga membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Akan tetapi hadits yang sebenarnya panjang di atas, diriwayatkan oleh At Thabrani dalam Al­ Ahadits At­ Thiwal, dan dinilai dhaif oleh sebagian ulama, karena di sana ada perawi Ismail bin Rafi’ Al­ Madani yang dinilai dhaif oleh Ad Daruquthni. Hingga Al­ Hafidz Ibnu Katsir mengatakan tentang status hadis ini, “Gharib jiddan” (sangat asing). (Tafsir Ibn Katsir, 3/287). Oleh karena hadits di atas itu dhaif, maka tidak dapat dijadikan dalil bahwa suara terompet sangkala itu ditiup sebanyak 3 kali tiupan.

Dalil yang menyatakan bahwa sangkakala itu ditiup 2 kali pada hari kiamat nanti. Mengenai dalil tentang dua tiupan sangkakala itu dinyatakan : Tiupan Al­ Faza’ (kaget) sekaligus tiupan Ash ­Sha’q (mati). Menurut Al Qurthubi, antara peristiwa Al­ Faza’ (kaget) dengan As­ Sha’q (mati) berlangsung secara bersambung. Tidak ada jeda di sana. 
Sehingga ketika sangkakala ditiupkan, mereka kaget dan langsung binasa, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.

Tiupan Al ­Ba’ats. Kebangkitan terjadi setelah tiupan kedua. Dan pendapat kedua ini yang lebih kuat. Sehingga kata Al Faza’ (kaget) yang disebutkan di surat An ­Naml dan kata As­Sha’q (mati) yang disebutkan di surat Az ­Zumar adalah sama. Tiupan pertama, yang mengagetkan dan menyebabkan semuanya mati.

Al­ Qur'an sendiri menyatakan bahwa tiupan sangkakala itu terjadi hanya sekali saja, dan kemudian diikuti dengan kehancuran alam semesta.

"Apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung‐gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur" (QS. Al‐Haqqah: Ayat 13 – 14).

Mengenai syarah / penjelasan tafsir ayat di atas Imam Al­ Qurthubi menyebutkan :

"Yang benar, tiupan sangkakala terjadi dua kali, bukan tiga kali. Dan tiupan al‐Faza’ (kaget) diikuti dengan As‐Sha’aq (kematian). Karena kedua tiupan itu tidak ada waktu jedanya. Artinya, mereka kaget langsung mati". (Tafsir Al‐Qurthubi, 13/240).

Itulah penjelasan dalil tentang suara tiupan sangkala dari langit dalam Al Qur'an dan Hadits Nabi, disampaikan oleh penulis dalam upaya meluruskan anggapan orang bahwa ada suara yang terdengar di belahan daerah dan dianggap suara sangkakala. Padahal itu hanyalah suara fenomena alam biasa yang dari dahulu terdengar pada frekwensi di bawah 10Hz, namun seiring waktu berjalan kini suara itu terdengar mencapai 20Hz yang mungkin akan terdengar oleh suara manusia. Sekian penjelasan dari terompet sangkakala semoga dapat menambah pengetahuan kita semua, Aamiin.

Sumber :

Bagaimana Al-Quran Menjelaskan Tentang Alam Semesta


Ini merupakan pembahasan yang panjang dan membutuhkan beragam cabang keilmuan, maka untuk membatasinya penulis hanya akan membahas tentang teori penciptaan alam semesta yaitu Big Bang atau Dentuman Besar dimana teori ini adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta dan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al-Quran.

Asal-Usul Penciptaan Alam Semesta Berdasarkan Perspektif Al-Qur’an

Penciptaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan menciptakan. Para ilmuwan diseluruh dunia  saat ini telah sepakat bahwa alam semesta ini terjadi dari tiada secara kebetulan dan menimbulkan dentuman besar. Ke-tiada-an (berasal dari tidak ada) adalah menunjukan akan adanya penciptaan (diciptakan).

Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau "Big Bang".

Adapun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam semesta adalah :

[1] Q.S. Al-Sajdah : Ayat 4

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْدُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَاشَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?” (QS. Al-Sajdah [32] : Ayat 4)

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad SAW itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi serta telah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.

Setelah Allah SWT menciptakan langit dan bumi, maka Dia pun bersemayam di atas Arsy, sesuai dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya. Allah SWT menegaskan bahwa tidak seorangpun yang dapat mengurus segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka dan siksa. Dan tidak seorangpun yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah semata, karena Dialah Yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu. Kemudian Allah SWT memperingatkan: “Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah selain Allah? (Sumber: Tafsir Depag)

[2] Q.S. Al-Kahfi : Ayat 51

مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَاخَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَاكُنْتُمُ متَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا

Artinya: “aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” (Q.S. Al-Kahfi [18] : Ayat 51)

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia. Setan itu tidak mempunyai hak sebagai pelindung, tidak hanya disebabkan kejadiannya dari lidah api saja tetapi juga karena mereka tidak mempunyai saham dalam menciptakan langit dan bumi ini. Allah SWT menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya, bahkan tidak pula penciptaan dari mereka sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak hadir dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam penciptaan tersebut.

Patutkah setan-setan itu dengan keadaan demikian dijadikan sekutu Allah? Allah SWT dalam menciptakan langit dan bumi ini tidak pernah sama sekali menjadikan setan-setan, berhala-berhala, sembahan-sembahan lainnya sebagai penolong, hanya Dia sendirilah yang menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan siapapun. Bilamana setan-setan itu dan berhala-berhala itu tidak ikut serta dalam menciptakan itu tentulah mereka tidak patut dijadikan sekutu Allah dalam peribadatan seseorang hamba Nya. Sebab orang yang ikut disembah yang ikut pula dalam penciptaan bumi dan langit ini. Sekutu dalam penciptaan, sekutu pula dalam menerima ibadah. Dan sebaliknya tidak bersekutu dalam penciptaan, tidak bersekutu pula dalam menerima ibadah. (Sumber: Tafsir Depag)

[3] Q.S. Al-Baqarah: Ayat 29

هُوَالَّذِي خَلَقَلَكُمْ مَافِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya :“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”(Q.S. Al-Baqarah [2] : Ayat 29)

(Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu); sebagai kemuliaan dari-Nya dan nikmat bagi manusia serta perbekalan hidup dan kemanfaatan untuk waktu tertentu. (dan Dia berkehendak [menciptakan] langit); lafazh “Tsummas tawa: (artinya): ‘dan Dia berkehendak (menciptakan)’ ”, mashdar/kata bendanya adalah istiwa’. Jadi, al-Istiwa’ artinya meninggi dan naik keatas sesuatu sebagaimana makna firman Allah Ta’ala (dalam ayat yang lain):

“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…”. (Q.S. Al-Mu’minun [23] : Ayat 28). 

(lalu dijadikan-Nya); meluruskan (menyempurnakan) penciptaannya (langit) sehingga tidak bengkok (tidak ada cacat didalamnya). (tujuh langit! dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu); meskipun demikian Ilmu-Nya mencakup segala sesuatu, Maha Suci Dia Yang tiada ilah dan Rabb (Yang berhak disembah) selain-Nya. (Sumber: Tafsir Depag).

Dari ketiga ayat di atas ini menunjukan bahwa Allah SWT lah dengan segala ke maha kuasaan-Nya  yang telah menciptakan alam semesta, tanpa ada campur tangan dari siapapun. Ketiga ayat di atas pun sekaligus menentang pada pernyataan para philosof materalis yang mengatakan bahwa “alam semesta ini telah ada sejak dulu tanpa ada perubahan apapun dan akan tetap menjadi seperti ini sampai akhir nanti.” (Harun Yahya).

Teori Big Bang

Big Bang merupakan model penciptaan alam semesta yang menerangkan bahwa alam semesta telah “diciptakan dari ketiadaan.” Edwin Hubble (1929) memulai penelitian  di observatorium Mount Wilson California, Amerika. Dia membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.

Sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain.Dari sini dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang”.

Adapun arti mengembang, maka ini menunjukan bahwa pada awalnya ia berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa “titik tunggal” ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki “‘volume nol”, dan “kepadatan tak hingga”. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.dan ledakan inilah yang disebut dengan Big Bang.

Teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.

Fase-Fase Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Quran

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ‘fase’ adalah tingkatan masa (perubahan, perkembangan, dsb). Sehingga dapat disimpulkan perkembangan ataupun perubahan tahap-tahap penciptaan alam semesta dalam hal ini ditinjau dari al-Qur’an dan tidak lupa juga menyertakan penjelasan di dalam Hadits. Akan tetapi, menyusun tahapan penciptaan alam semesta di dalam a-Qur’an bukan perkara yang mudah – disamping minimnya referensi terutama asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) ataupun penjelasan dari hadits berkaitan dengan fase-fase penciptaan diperparah dengan kemunculan cerita-cerita dari Israiliyat dan hadits yang dlaif maupun maudlu (palsu).

Sebab, dari segi susunan ayat yang menerangkan tahapan penciptaan di dalam al-Qur’an seolah mengalir seperti firman Allah di dalam surat Fushilat ayat 9-12. Tidak seperti puzzle yang memang harus disusun sehingga membentuk satuan gambar yang utuh bisa dikenali. Namun, jika disusun seperti puzzle yang pernah kita mainkan maka akan membentuk sebuah gambaran penciptaan alam semesta yang saat ini dunia akui keabsahannya dari berbagai rangkaian eksperimen dan bukti yang otentik.

Enam Masa Penciptaan Alam Semesta

Al-Qur’an menyebutkan dalam "sittati ayyaamin" yang berarti enam masa yang panjang.
Sebagaimana dalam Al-Qur’an   (Q.S. Al-Sajdah [32] : Ayat 4):

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْدُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Artinya : “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”

Dari ayat di atas Allah SWT menyebutkan penciptaan langit dan bumi dalam enam masa (sittati ayyaamin) selanjutnya para mufasir bersepakat dalam menafsirkan ayat ini, bahwa yang disebut dengan  (sittati ayyaamin) adalah enam tahapan atau proses bukan enam hari sebagaimana mengartikan kata ayyaamin.

Adapun kronologis penciptaan dalam Al-Qur’an adalah :

Fase Pertama

َوَلَمْيَرَالَّذِينَ كَفَرُواأَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُون

Artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. Al Anbiya [21] : Ayat 30)

Ini dimulai dengan sebuah ledakan besar (Big Bang) sekitar 12-20 miliar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energy dan waktu. “Ledakan” pada hakikatnya adalah pengembangan ruang. Materi yang mula-mula terbentuk adalah hydrogen yang menjadi bahan dasar bagi bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti hydrogen, menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi atau disebut juga Nukleosintesis Big Bang.

Fase Kedua

هُوَالَّذِي خَلَقَلَكُمْ مَافِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : Ayat 29)

Masa ini adalah pembentukan langit. Pengetahuan saat ini menunjukan bahwa langit biru hanyalah disebabkan hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Di luar atmosfer langit biru tak ada lagi, yang ada hanyalah titik cahaya bintang , galaxy, dan benda-benda langit lainnya. Jadi, langit bukanlah hanya kubah biru yang ada di atas sana, melainkan keseluruhan yang ada di atas sana (bintang-bintang, galaxy dan benda-benda langit lainnya), maka itulah hakikat langit yang sesungguhnya. Adapun dalam fase ini, pembentukan bintang-bintang di dalam galaxy yang masih berlangsung hingga saat ini.

Fase Ketiga

Pada masa ini dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya, termasuk bumi. Selain itu pada masa ini juga terjadi proses pembentukan matahari sekitar 4,6 miliar tahun lalu dan mulai di pancarkannya cahaya dan angin matahari. Proto-bumi (bayi bumi) yang telah terbentuk terus berotasi menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi sebagaimana yang Allah SWT firmankan dengan indah :

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَ أَخْرَجَ ضُحَاهَا

Artinya : “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.” (Q.S. An-Nazi’at [79] : Ayat 29)

Fase Keempat

Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsure-unsur radioaktif di bawah kulit bumi.

Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawahkulit bumi menjadi lebu,antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi  dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumiyang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang tampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” .sebagaimana Allah SWT berfirman :


وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا


Artinya :“dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.”(Q.S. An-Naziat [79] : Ayat 30)

Fase Kelima

Hadirnya air dan atmosfer di bumi menjadi prasyarat terciptanya kehidupan di bumi. Sebagaimana firman Allah SWT :


…وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya :“…dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…“ (Q.S. Al-Anbiya [21]  : Ayat 30) Selain itu, pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca dibumi, yakni awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya akan gas metana (CH4) dan amonia (NH3) serta sama. sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dan halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Sebagaimana dikembalikan pada surat Al-Anbiya [21] ayat 30 yang telah menyebutkan bahwasanya semua makhluk hidup berasal dari air.

Fase Keenam

Masa keenam dalam proses penciptaan alam ini adalah dengan lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ini pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempengan tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Setelah mengkaji cara Al-Quran menjelaskan tentang penciptaan alam semesta. Penulis menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan antara satu sama lainnya. Seperti yang penulis kutip dari seorang ilmuan besar Albert Einsten: ”science without religion is lame/damage and religion without science is blind.” (Albert Einstein, 1960)

Ilmu yang tidak disertai dengan agama akan hancur dan tumbang karena tidak adanya kekuatan iman. Sedangkan agama tanpa ilmu akan menjadi rusak karena akan dapat salah mengartikannya. Sebagaimana orang-orang materialis yang selalu menentang akan adanya penciptaan alam semesta. Ini merupakan contoh yang sangat signifikan jika ilmu pengetahuan tidak disertai dengan ajaran-ajaran agama.

Untuk itu penulis dapat menyimpulkan bahwa :

[1] Kebenaran Al-Qur’an akan selalu terbukti sampai kapanpun.

[2] Alam semesta berasal dari ketiadaan dan kemudian menjadi ada, ( terjadi proses penciptaan) oleh Allah SWT.

[3] Penciptaan alam semesta terjadi secara berproses (berkembang) sebagaimana yang telah Al-Qur’an jelaskan dan tidak statis (tetap).

[4] Al-Qur’an lebih dahulu  menceritakan tentang proses penciptaan alam semesta jauh sebelum ilmu pengetahuan mencapainya (sekitar abad 6) dan kini kebenaran Al-Qur’an itu sudah dapat dibuktikan kebenarannya dengan adanya kecocokan dalam sains (abad-20).


[5] Ilmu dan agama akan selalu sejalan selaras bersamaan.

Sumber:
- Al-Qur'an dan Terjemah
- Hadist Rasulullah
- Ensiklopedia Islam, Mukjizat Al-Qur'an (Penciptaan Alam Semesta)
- Jumal Ahmad

Pengertian, Hukum, Keutamaan, dan Sunnah Sholat Jumat



Pengertian Sholat Jumat

Sholat Jumat adalah sholat 2 rokaat yang dilakukan di hari Jumat secara berjamaah setelah khutbah Jumat setelah masuk waktu Dhuhur.

Untuk dapat melakukan sholat Jum’at berjamaah, jumlah yang hadir harus minimal 40 orang dan dilakukan di masjid yang dapat menampung banyak jamaah.

Hukum Sholat Jumat

Hukum sholat jumat bagi laki-laki adalah wajib. Hal ini berdasarkan dalil sholat Jumat yang diambil dari Al Qur’an, As-Sunnah dan ijma atau kesepakatan para ulama. Dalilnya adalah surat Al Jumu’ah ayat 9 yang berbunyi,

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Sedangkan hadist Nabi yang memerintahkan untuk melaksanakan sholat Jumat adalah dari hadist Thariq bin Syihab yang bunyinya,

"Jumatan adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan), yakni budak sahaya, wanita, anak kecil atau orang yang sakit." (HR. Abu Dawud)

Jadi, hukum shalat Jum’at bagi laki-laki adalah fardhu ‘ain, yakni wajib dilakukan bagi setiap laki-laki. Sedangkan bagi wanita tidak diwajibkan, namun tetap harus melaksanakan sholat Dhuhur.

Yang Diwajibkan Sholat Jumat

Hal-hal yang perlu diketahui tentang siapakah yang diwajibkan untuk melakukan sholat Jumat, berikut penjelasannya.

1. Muslim yang sudah baligh dan berakal. Meski anak laki-laki yang belum baligh belum mendapatkan kewajiban untuk melaksanakan sholat Jumat namun hendaknya anak laki-laki yang sudah mumayyiz (berumur sekitar 7 tahun ) maka orang tua atau walinya diminta untuk memerintahkan anak tersebut menghadiri sholat Jumat.

2. Laki-laki. Tidak ada kewajiban melakukan sholat Jumat bagi perempuan. Maka hukum sholat Jumat bagi wanita adalah mubah.

3.Orang yang merdeka, bukan budak sahaya. Pada poin ini, terdapat perbedaan pendapat antar ulama, karena berdasarkan hadist, hamba sahaya atau budak tidak wajib melakukan sholat Jumat. Dasar pemikirannya adalah karena tuannya sangat memerlukan tenaganya sehingga sang hamba sahaya tidak dapat leluasa melakukan sholat Jumat. Namun sebagian ulama menyatakan, bila majikannya mengizinkan dirinya untuk melakukan sholat Jumat maka sang hamba sahaya wajib menghadiri sholat Jumat tersebut karena tidak ada lagi uzur yang menghalangi. Pendapat ini dikuatkan oleh as-Syaikh Muhammad bin Shalih as-‘Utsaimin (Asy-SyarhulMumti’ 5/9).

4. Orang yang menetap dan bukan musafir ( orang yang sedang bepergian ). Dasar pemikirannya adalah ketika Rasulullah SAW dahulu melakukan safar atau bepergian, beliau tidak melakukan sholat Jumat dalam safarnya. Pun ketika Nabi SAW menunaikan haji wada’ di Padang Arafah ( wukuf ) pada hari Jumat beliau menjama’ sholat dhuhur dan ashar dan tidak melakukan shalat Jumat.

5. Orang yang tidak memiliki halangan atau uzur yang dapat mencegahnya menghadiri shalat Jumat. Apabila orang tersebut memiliki halangan, maka dia hanya wajib melakukan sholat dhuhur saja. Diantara orang yang memiliki uzur dan diperbolehkan meninggalkan shalat Jumat adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab keamanan dan kemaslahatan umat, diantaranya adalah petugas keamanan, dokter dan sebagainya.

6. Orang sakit yang membuatnya tidak mampu menghadiri shalat Jumat dan akan menemui kesulitan untuk melaksanakan bukan sekedar perkiraan, seperti terkena diare misalnya, maka diperbolehkan tidak melakukan shalat Jumat. 

Maka bagi yang diwajibkan sholat Jumat sebagaimana di atas namun tidak mengerjakan dengan uzur syar’i, hukum meninggalkan sholat Jumat adalah haram.

"Barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at 3 (tiga) kali tanpa sebab maka Allah akan mengunci mata hatinya." (H.R. Malik)

Hadist lain pun menyebutkan

"Barang siapa yang tidak mengerjakan Shalat Jum’at tiga kali karena meremehkannya maka Allah akan mengunci mata hatinya." (H.R. At Tirmidzi)

Keutamaan Sholat Jumat dan Sejarah Sholat Jumat

Keutamaan hari Jumat dalam Islam adalah hari Jumat merupakan penghulunya hari (sayyidul ayyam). Hari Jum’at pun oleh umat beragama Islam dianggap sebagai hari istimewa, hal ini karena Nabi Adam As diciptakan pada hari Jum’at serta dimasukkannya beliau ke dalam surga. Selain itu, pada hari jum’at juga hari saat nabi Adam dikeluarkan dari surga menuju bumi, serta terjadinya kiamat yang juga akan terjadi di hari Jum’at sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist. Dari Aus bin ‘Aus, Rasulullah bersabda,

"Sesungguhnya diantara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itu pula Adam diwafatkan, di hari itu tiupan sangkakala pertama dilaksanakan, di hari itu pula tiupan kedua dilakukan”. (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Pada hari Jum’at juga diyakini sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa dan dosa-dosa diampuni hingga hari Jum’at berikutnya bila kita bertaubat dan memperbanyak membaca istighfar. Sehingga hikmah sholat Jumat sangat besar sekali.

Sunnah Jumat (Hal-hal yang dilakukan di hari  Jumat)

Setelah mengetahui bahwa shalat Jumat hukumnya wajib bagi laki-laki serta memahami keutamaan sholat Jumat selain sebagai penambah pahala juga sebagai penghapus dosa, maka yang kemudian harus diketahui adalah hal-hal yang disunnahkan oleh Nabi sebelum dan sesudah melakukan shalat Jumat di masjid.

Sunnah-sunnah Sebelum Sholat Jumat

  1. Mandi 
  2. Memotong kuku dan mencukur kumis
  3. Memakai pakaian yang rapi dan bersih ( lebih diutamakan berwarna putih )
  4. Memakai wangi-wangian. Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan memakai pakaian yang terbaik yang dimiliki, memakai harum-haruman jika ada, kemudian pergi melaksanakan shalat Jumat dan di sana tidak melangkahi bahu manusia lalu mengerjakan shalat Sunnah, kemudian imam datang dan ia diam sampai selesai shalat jumat maka perbuatannya itu akan menghapuskan dosa antara jumat itu dan jumat sebelumnya
  5. Berdoa ketika keluar rumah
  6. Segera menuju masjid dengan berjalan kaki perlahan-lahan dan tidak banyak bicara.
  7. Ketika masuk ke masjid melangkah dengan kaki kanan dan membaca doa.
  8. Melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid. 
  9. I’tikaf sambil membaca Al Qur’an, berdzikir atau bersholawat  ketika khatib belum naik ke mimbar, namun bila khatib telah naik ke mimbar hendaknya para jamaah menghentikan dzikir atau bacaan Al Qur’an dan mendengarkan khotbah jumat.
Sunnah-sunnah Setelah Sholat Jumat

Setelah shalat Jumat, jamaah disunnahkan membaca dzikir dan mengerjakan shalat sunnah ba’diyah Jumat baik saat di masjid atau ketika telah berada di rumah.

"Menurut riwayat, Nabi Muhammad SAW mengerjakan shalat sesudah shalat jumat dua rakaat di rumahnya. (HR. Al Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah)

Di hari Jumat kita diperintahkan untuk memperbanyak shalawat atas Nabi SAW. Dari Abu Umamah , Rasulullah SAW bersabda,

"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku setiap Jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti”. (HR. Baihaqi).

Kebiasaan Nabi yang lain pada setiap hari Jumat adalah membaca surat Al Kahfi, rentang waktunya dimulai sejak terbenamnya matahari di hari Kamis hingga terbenamnya matahari di hari Jumat.

Rasulullah bersabda,

"Barangsiapa membaca surat al Kahfi pada hari Jumat, akan bersinar baginya cahaya antara dirinya dan Baitul Haram”. (HR. Baihaqi).

Datang ke masjid lebih awal juga merupakan perbuatan yang utama bagi laki-laki yang akan menunaikan shalat jamaah Jumat. Sebagaimana sebuah hadist yang menyebutkan, dari Abu Hurairah berkata,  Rasulullah SAW bersabda,

"Pada hari Jumat di setiap pintu masjid ada beberapa malaikat yang mencatat satu persatu orang yang hadir sholat jumat sesuai dengan kualitas kedudukannya. Apabila imam datang atau telah naik mimbar, maka para malaikat itu menutup lembaran catatan tersebut lalu mereka bersiap-siap mendengarkan khotbah sholat Jumat. Orang yang datang lebih awal diumpamakan seperti orang yang berqurban seekor unta gemuk, orang yang datang berikutnya seperti yang berqurban sapi  dan orang yang datang berikutnya seperti orang yang berqurban kambing. Yang datang selanjutnya seperti orang yang bersedekah seekor ayam dan berikutnya yang terakhir seperti orang yang bersedekah dengan sebutir telur. (HR. Bukhori).

Bacaan Doa Sholat Jumat (Niat Shalat Jumat)

Adapun pelaksanaan sholat jum’at sama seperti sholat lainnya. Di mulai dengan membaca niat sholat Jum’at seperti dibawah ini:


Artinya: "Aku niat shalat fardhu jumat 2 rakaat menghadap kiblat mengikuti imam karena Allah ta'ala."

Catatan penting: Jika menjadi IMAM maka kata MA'MUUMAN di ganti menjadi IMAAMAN.

Setelah membaca niat shalat Jum’at tersebut, maka Anda dapat melanjutkan dengan bacaan Takbirotul Ikhram dan Membaca Surat Iftitah, dilanjutkan dengan membaca Surat Al Fatihah seperti pada saat melaksanakan sholat seperti biasa.

Setelah Anda membaca Surat Al Fatihah lanjutkan membaca surat-surat dalam  Al-Qur’an dan disunnahkan membaca surat yang agak panjang ayatnya. Kemudian setelah itu laksanakan ruku, itidal, sujud, duduk di antara sujud, sujud kedua dan kembali berdiri untuk raka’at kedua sampai tasyahud akhir hingga salam.

Setelah melaksanakan sholat Jum’at maka duduklah dengan khusyu sambal berdzikir kepada Allah SWT. Perbanyaklah membaca dzikir seperti istighfar, shalawat Nabi Muhammad SAW, tahmid, dan tasmih yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan berdoa sebagaimana seperti setelah menunaikan shalat-shalat seperti biasa.



Cara-cara Sholat Jumat dan Rukun Sholat Jumat

Cara sholat Jumat, rukun sholat Jumat, dan rakaat sholat Jumat adalah seperti sholat sunnah 2 rokaat. Perbedaannya adalah di niat seperti yang sudah ditulis di atas dan sebelum memulai shalat, kita mendengarkan dua khotbah yang dilakukan oleh Khatib setelah adzan sholat Jum’at.

Demikianlah, beberapa hal yang wajib diketahui oleh laki-laki para jamaah shalat Jumat dan juga para perempuan agar dapat mengingatkan ayah atau suami atau teman sekerjanya tentang kewajiban, keutamaan sholat Jumat, dan amalan-amalan penting yang sebaiknya dikerjakan menjelang dan setelah shalat Jumat. Semoga Allah memberkahi kita semua. Aamiin.

Sumber:

Thursday, 24 November 2016

Inilah Wujud Asli Ya'juj dan Ma'juj

Salah satu tanda akan datangnya hari kiamat adalah dengan munculnya Ya'juj dan Ma'juj, siapakah Ya'juj dan Ma'juj itu? menurut pendapat para ulama, Ya'juj dan Ma'juj adalah sekelompok makhluk yang sangat banyak jumlahnya dan mereka memiliki sifat perusak dan penghancur kehidupan di bumi.

Banyak orang berspekulasi tentang Ya'juj dan Ma'juj, ada yang menganggap bahwa Ya'juj dan Ma'juj adalah salah satu makhluk besar seperti monster, ada juga yang beranggapan bahwa Ya'juj dan Ma'juj bukan dari bangsa manusia melainkan bangsa dari iblis, lalu ada pula yang berpendapat bahwa Ya'juj dan Ma'juj itu adalah alien yang menyerang bumi.


Seperti yang kita yakini bersama bahwa Ya'juj dan Ma'juj akan keluar menjelang hari kiamat nanti, mereka akan berperang melawan nabi Isa AS dan akan dihabisi olehnya. Bahkan, kedatangan mereka sudah tertulis di dalam Alquran sebagai berikut,

"Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): "Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim"." (QS. Al-Anbya: Ayat 96-97)

Lalu sebenarnya siapakah Ya'juj dan Ma'juj ini? bagaimana rupa mereka dan bagaimana pula sifat mereka? berikut ini penjelasannya.

Jadi sebenarnya, sosok Ya'juj dan Ma'juj ini bukanlah monster, jin, atau bahkan alien. Mereka adalah golongan manusia dan keturunan Adam seperti kita. Ibnu Katsir menerangkan bahwa mereka ini adalah keturunan dari nabi Nuh AS dari keturunan anaknya, Yafits yakni Magogh bin Yafits bin Nuh bin Lamik (Lamaka) bin Metusyalih bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qianan bin Anusy bin Syits bin Adam. Magogh inilah yang menjadi cikal bakal bangsa Ya'juj dan Ma'juj.

Meskipun mereka semua adalah masih golongan bangsa manusia, namun mereka memiliki ciri yang sangat khas yakni mereka memiliki sifat perusak. Dan lagi, jumlah mereka sangatlah banyak. Bahkan di ibaratkan jika mereka nanti turun dari tempat-tempat yang tinggi maka akan terlihat seperti air yang mengalir.

Adapun ciri fisik dari Ya'juj wa-Ma'juj adalah memiliki mata kecil (sipit), berhidung kecil, lebar mukanya, merah warna kulitnya seakan-akan wajahnya seperti perisai, tidak pandai berbicara dan lain sebagainya.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah pernah menerangkan tentang ciri fisik Ya'juj dan Ma'juj yakni sebagaimana berikut,

"Kalian mengatakan tidak ada musuh. Padahal sesungguhnya kalian akan terus memerangi musuh sampai datangnya Ya’juj wa Ma’juj, lebar mukanya, kecil (sipit) matanya, dan ada warna putih di rambut atas. Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti perisai." (HR. Muslim)

Selain itu, Ya'juj dan Ma'juj juga memiliki sifat sombong, mereka akan merusak segala apapun yang dilewatinya, ia juga akan membunuh setiap manusia dihadapannya. Lalu, setelah puas, mereka akan menantang penduduk langit dan mengatakan bahwa mereka akan membunuh penduduk langit. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah,

"Kemudian mereka berjalan dan berakhir di gunung Khumar, yaitu salah satu gunung di Baitul Maqdis. Kemudian mereka berkata: "Kita telah membantai penduduk bumi, mari kita membantai penduduk langit." Maka mereka melemparkan panah-panah dan tombak-tombak mereka ke langit. Maka Allah Subhanahuwata’ala kembalikan panah dan tombak-tombak mereka dalam keadaan berlumuran darah." (HR. Muslim)

Dimana Ya'juj dan Ma'juj Sekarang?

Ya'juj dan Ma'juj saat ini berada di suatu tempat yang hanya Allah saja yang tau. Mereka hidup dan beranak pinak seperti kita, namun keberadaannya dibatasi oleh dinding besi yang sangat tinggi dan kuat yang dibangun oleh Dzulkarnain. Seperti yang diceritakan didalam Alquran,

"Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)". Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu". Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar"." (QS. Al-Kahfi: Ayat 92-98]

Ada yang berpendapat bahwa berdasarkan keterangan Surah al-Kahfi Ayat 92-98, fakta relevan mengenali Ya’juj & Ma'juj ialah:

Negeri Ya’juj & Ma’juj = Khazaria & Russia
Jalan ke utara = ke utara Iran menuju ke Armenia
Di antara dua gunung = Gunung Kaukasus
Kaum hampir mereka tidak memahami perkataan = Kaum Armenia
Tembok besi = Daryal Gorge/Gerbang Iberian/Gerbang Kaukasia.

Wallahua'lam, namun yang jelas Ya'juj dan Ma'juj memang sudah ada di bumi ini. Dan menurut Alquran, mereka saat ini dibatasi oleh benteng dinding yang sangat besar dan tinggi yang dibuat oleh Dzulkarnain, namun jika sudah saatnya nanti, Allah akan menghancurkan dinding tersebut dan keluarlah Ya'juj dan Ma'juj dari gunung yang tinggi dan lalu akan membuat kerusakan di muka bumi.

Kemudian saat nabi Isa turun ke bumi, ia akan berperang melawan Dajjal. Lalu setelah beliau membunuh Dajjal, maka nabi Isa akan kemblai berperang dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Nabi Isa akan menghabisi Ya'juj dan Ma'juj lalu setelah itu beliau akan berdakwah dan mengajarkan ajaran tauhid seperti yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi sebelumnya serta menyadarkan umatnya yang menganggapnya sebagai Tuhan. Itulah beberapa penjelasan singkat mengenai Ya'juj dan Ma'juj semoga dapat menambah pengetahuan kita semua, Aamiin.

Dialog Nabi Musa AS Dengan Ummatnya Tentang Al Baqarah



Seperti diketahui Nabi Musa AS hidup sezaman dengan dua orang Firaun (gelar penguasa Mesir waktu itu), yaitu Firaun Ra Moseh II (Ramses) dari dinasti ke-19 (1292 - 1225) sebelum Miladiyah dan Firaun Merne Ptah (1225 - 1221) sebelum Miladiyah, anak Firaun Ra Moseh II. Musa bersaudara angkat dengan Merne Ptah yang ditenggelamkan Allah di Laut Merah beserta dengan bala tentaranya yang mengejar rombongan Bani Israil yang hijrah dari Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa AS. Mengapa Merne Ptah bersaudara angkat dengan Musa, oleh karena permaisuri Firaun memungut Musa yang masih bayi dari pinggir sungai Nil. Ibu Musa mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menghanyutkan anaknya yang masih bayi. Dengan demikian Musa yang masih bayi itu luput dari pembunuhan, karena waktu itu Firaun menitahkan membunuh semua bayi laki-laki Habiru (maksudnya Bani Israil) yang baru lahir. "yudzabbihuuna abnaaa'akum wa yastahyuuna nisaaa'akum" (S. Al-Baqarah: Ayat 49). Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan mereka membiarkan hidup anak-anak perempuanmu.

Akhirnya Musa mengetahui bahwa ia bukanlah anak istana melainkan dari keturunan Israil. Musa melarikan diri dari Mesir setelah membunuh seorang Mesir yang menyiksa seorang Bani Israil. Walaupun Musa belumlah diangkat menjadi Nabi, akan tetapi Allah menuntunnya dengan memberikan ilham kepada Musa ke mana ia mesti pergi. Musa pergi ke Sinai dan akhirnya menjadi menantu Nabi Syu'aib AS, keturunan dari Midyan, anak Nabi Ibrahim AS dari isteri yang ketiga Sitti Katurah. Setelah Musa diangkat menjadi Rasul oleh Allah SWT, Nabi Musa AS bersama dengan saudaranya Nabi Harun AS diutus oleh Allah SWT kepada Firaun Merne Ptah. Tugas utamanya ialah membawa seluruh umat Bani Israil yang tertindas itu hijrah dari Mesir. Sementara dalam proses persiapan hijrah itu terjadilah dialog seperti berikut.

"waidzqa-la muusaa liqaumihii innallaha ya'murukum an tadzbahuu baqarah" (S. Al-Baqarah: Ayat 67), ingatlah tatkala Musa berkata kepada kaumnya sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyembelih baqarah.. 

Perintah Allah SWT kepada Bani Israil untuk menyembelih al baqarah itu sesungguhnya adalah dalam rangka persiapan mental, membersihkan akidah umat Nabi Musa AS itu dari khurafat dan kemusyrikan yang merasuk ke dalam komunitas Bani Israil, yang berasal dari pengaruh penguasa meraka yaitu orang Mesir yang memandang suci binatang al baqarah. 

Mereka tidak dengan segera mengambil seekor baqarah lalu terus menyembelihnya, melainkan mempersulit diri dengan mengemukakan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu. 

"qa-luud'u lanaa rabbaka yubayyil lanaa ma hiy" (S. Al-Baqarah: Ayat 68), mereka berkata: tanyakanlah kepada Tuhanmu untuk menjelaskan apa (ciri-ciri) baqarah itu. Maka dalam ayat yang sama Nabi Musa AS menjelaskan ciri-ciri sapi itu. "innahuu yaquulu innahaa baqaratul laa faaridhuw wa laa bikr 'awaanum baina dzalik", sesungguhnya (Allah) berkata: bahwa baqarah itu tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara keduanya.

Mereka masih belum puas, masih ingin mendapatkan penjelasan yang lebih tuntas.

"qa-luud'u lanaa rabbaka yubayyil lanaa maa launuhaa" (S. Al-Baqarah: Ayat 69), mereka berkata: tanyakanlah kepada Tuhanmu untuk menjelaskan apa warnanya, maka dijelaskan kepada mereka itu pula dalam ayat yang sama: "innahuu yaquulu innahaa baqaratun shafraa'u faaqi'ul launuhaa tasurrun-naazhiriin", sesungguhnya (Allah) berkata bahwa baqarah itu kuning tua warnanya, menggirangkan hati orang yang melihatnya.

Mereka masih belum puas juga mereka ingin mempersulit diri lebih lanjut:

"qa-luud'u lanaa rabbaka yubayyil lanaa maa hiya innal-baqara tasyaabaha 'alainaa (S. Al-Baqarah: Ayat 70), mereka berkata: tanyakanlah kepada Tuhanmu untuk menjelaskan apa (lagi ciri-ciri) baqarah itu, sesungguhnya al baqarah itu masih belum jelas bagi kami.

Maka kepada mereka itu dijelaskan oleh Nabi Musa AS lebih lanjut ciri-ciri baqarah itu, sehingga hampir-hampir mereka tidak dapat memperoleh baqarah dengan tambahan ciri-ciri yang mereka minta itu:

"innahuu yaquulu innahaa baqaratul laa dzaluulun tusiirul-ardha wa laa tasqil-hartsa, musallamatul laa syiyata fiihaa" (S. Al-Baqarah: Ayat 71), sesungguhnya (Allah) berkata: sesungguhnya baqarah itu bukan yang telah patuh membajak bumi, dan bukan pula menyirami ladang, selamat (belum pernah membawa beban), tidak belang warnanya sedikitpun.

Dari dialog itu dapat dipetik pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan ini, baik dalam kehidupan orang seorang, maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sikap cerewet, banyak cincong, berlebihan tingkah, terjun menelusuri suatu urusan yang sesungguhnya tidak perlu, akan menimbulkan kesulitan terhadap diri sendiri. Sebaliknya sikap membiarkan suatu urusan tanpa banyak cincong tidak akan menimbulkan ekses, sehingga lebih mempermudah kehidupan diri sendiri, kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sikap yang demikian itu akan menghasilkan kinerja yang tinggi. Wallahu a'lamu bishshawab.